MENGATASI EMOSI

Apakah Emosi Itu?

Para Ahli Psikologi seperti Fehr dan Russel menegaskan bahwa “Setiap orang tahu apa itu emosi, sampai dia diminta untuk memberikan definisi tentang emosi itu sendiri. Setelah itu tidak satupun dari mereka yang mengetahuinya”. Dari pernyataan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa setiap individu hanya bisa merasakan Emosi tanpa bisa mengutarakan definisinya, karna Emosi merupakan Sebuah Pengalaman Rasa. 

 

Sebut Saja… Mayang yang sedang dihadapkan dengan Pernikahan Kakaknya yang tinggal Satu Hari lagi, Sebagai anak Perempuan Dewasa satu-satu nya di keluarganya, dia harus membantu ibunya dalam mengurusi semua persiapan pernikahan kakak lelakinya. Mulai dari sewa gedung sampai Souvenir pernikahan. Tingkat Stres mayang pun meningkat saat mempersiapkan pernikahan kakaknya karna selain harus memikirkan Thesisnya, ini merupakan beban yang menguras tenaga dan fikirannya.

Pernikahan pun berlangsung, Mayang merasa lega karna pernikahan kakaknya berjalan lancar dan khidmad. Namun… Terbersit dalam fikiran mayang “Aku sudah membantu kakak dan istrinya untuk pernikahan ini… apakah kakak dan istrinya nanti juga akan membantu ku, jika aku dalam kesulitan?”. 

*Sebagai Manusia… itu merupakan sifat dasar kita kan… mengharap imbalan atas apa yang sudah kita lakukan, namun Syukurnya…pendidikan agama dan moral telah mengajarkan kita untuk bersikap IKHLAS dalam melakukan segala hal. 

Kakak dan Istrinya tinggal bersama mayang di rumah orang tua mayang, pada bulan pertama kehidupan dirumah klg mayang penuh dengan canda, tawa dan keharmonisan karna eforia pernikahan kakaknya masih terasa, Namun… dibulan kedua..mulai terasa krikil-krikil baru yang mayang rasakan dari dampak pernikahan kakaknya. krikil apa itu…? krikil yang mayang artikan adalah… kemalasan kakak iparnya dalam mengurus rumah org tuanya. Iparnya yang selalu bangun siang, tidak membantu memasak, membereskan dapur sampai halaman rumah.. membuat mayang geram dan kesal. namun mayang mencoba bersabar karna berfikir “Dia baru saja menikah.. diberi pengertian baik-baik juga akan berubah”. namun perubahan tidak terjadi setelah ortu mayang menasehati kakak dan iparnya. hal itu membuat emosi mayang memuncak. Sindiran demi sindiran dilayangkan mayang pada iparnya lama-lama mayang benar-benar memarahi iparnya atas sikap iparnya yang cuek dengan lingkungan. Akhirnya.. keharmonisan dalam rumah ortu mayang hilang sudah.. mayang yang merasa terbebani karna harus mengurusi rumah dari halaman depan rumah – dapur – sampai memasak untuk satu rumah – serta mengejar thesis yang harus selesai tahun ini..mayang pun tak bisa melimpahkan atau membagi separuh pekerjaan rumahnya kepada ibunya.. karna ibunya mempunyai toko dipasar yang harus dijaga dari pagi hingga sore. Belum lagi permasalahan dengan orang-orang terdekatnya di area kampus, menghadapi dosen yang sulit di temui dan dosen yang galak dalam mengkritisi thesisnya,dll..hal ini membuat mayang menjadi emosional dan mudah tersinggung. 

*Siapakah yang Patut di tegur habis-habisan dari cerita di atas? saya rasa banyak yang akan menjawab “IPARNYA MAYANG……”

 

Menurut saya… Ipar mayang memang salah dalam bersikap namun mayang lebih salah dalam meluapkan emosinya. pada dasarnya kita manusia tidak bisa merubah sikap orang lain,karna setiap individu terbentuk dalam lingkungan yang berbeda-beda. lalu…. harus bagaimana? mulai lah dari diri kita sendiri dengan cara mengendalikan emosi tersebut. Dalam hal ini… berarti mayang harus bisa bernegosiasi dengan perasaannya untuk bisa mengendalikan emosinya. 

 

Emosi-Emosi yang kita alami sebetulnya tidak melulu mengarah ke kata negatif karna emosi pun bisa menjadi positif. Emosi yang positif secara pribadi akan menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Dengan bersikap memahami, menunjukkkan i’tikad baik, membangun kedekatan maka akan menghasilkan hubungan yang baik. Sebaliknya jika kita bersikap frustasi, dendam, marah tentu saja akhirnya kita akan menjadi susah hati, dari sinilah emosi negatif terbentuk. 

Saya tau.. Mengendalikan emosi itu tidak mudah, karna saya sendiripun masih terus belajar untuk itu. Ketika kita dihadapkan pada hal yang meningkatkan amarah kita..otomatis emosi negatif itupun ON akhirnya bisa membuat citra kita sendiri di hadapan orang lain menjadi buruk, walaupun pada awalnya bukan kita yang melakukan kesalahan, namun karna sikap yang kita ambil adalah dengan meluapkan emosi negatif tersebut… maka bisa stigma negatif juga yang kita dapat.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengarahkan emosi-emosi yang tidak terkendali? padahal dalam tekanan amarah dan frustasi sulit rasanya menemukan cara untuk menenangkan emosi kita. 

Menurut Roger-Daniel dalam bukunya yang berjudul “Teknik-Teknik Mengatasi Emosi” beberapa saran yang mungkin bisa kita lakukan pada saat seperti itu terjadi :

  • Hitung mundur dari hitungan sepuluh dengan pelan-pelan
  • Tarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali, tarik nafas melalui hidung dan keluarkan dari mulut
  • Berhenti. Ajaklah diri kita untuk duduk tenang selama beberapa saat. kemudian, tanyakan pada diri kita sendiri apa yang terjadi pada kita.
  • Minta Izin sebentar untuk kekmar mandi atau menelpon. Selama diluar Bersantailah dan berfikir jernih
  • Bayangkanlah tempat-tempat bersantai-santai seperti pantai berpasir, hutan dengan sinar mataharinya, atau pertunjukan simfoni.
  • Mengganti pokok pembicaraan walau hanya sesaat
  • Ambillah posisi santai: duduk bersandar, menyilangkan kaki
  • Biarkan komentar – komentar yang mengganggu (sikap-sikap yang mengganggu juga biarkan saja)
  • Ingat kembali jalan alternatif yang telah kita persiapkan. 
  •  Yang terbaik menenangkan emosi-emosi kita dengan bertanya kepada diri sendiri “Seberapa pentingnya persoalan-persoalan ini bagi saya?”

Agama pun juga telah memberikan ajaran kepada kita cara mengendalikan emosi, Jika dalam ajaran Islam mengajarkan :

  • Membaca Ta’awwudz. Rasulullah bersabda “Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan (emosi) seseorang, yaitu “A’uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim” “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk” (H.R. Bukhari Muslim).
  • Berwudlu. Rasulullah bersabda “Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah (emosi) berwudlulah” (H.R. Abud Dawud).
  • Duduk. Dalam sebuah hadist dikatakan”Kalau kalian marah (emosi) maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah” (H.R. Abu Dawud).
  • Diam. Dalam sebuah hadist dikatakan “Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah (emosi) maka diamlah” (H.R. Ahmad).
  • Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadist dikatakan “Ketahuilah, sesungguhnya marah (emosi) itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu (emosi), maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (H.R. Tirmidzi)

jika difikir dengan jernih, Tidak sulitkan sebetulnya bagi kita untuk mengendalikan emosi. Jadi.. berlatihlah untuk mengendalikan emosi karna memang itu tidak instan untuk orang-orang yang terbiasa meluapkannya dengan bebas. Membuat pencitraan yang baik dengan dikenal sebagai orang yang sabar dan bijaksana bukan hal yang merugikan kan…

 

so,, good luck in controlling your emotions 


 

2 thoughts on “MENGATASI EMOSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s