Coercion : Memaksakan Kehendak adalah PEMERKOSAAN

Coercion

Apa bedanya pemaksaan pemikiran atau pendapat dengan pemerkosaan? Menurut saya itu sama saja… yang membedakan hanyalah dalam bentuknya… Pemerkosaan yang selama ini kita tau yaitu pemerkosaan secara fisik.. Sedangkan pemaksaan pendapat itu.. adalah pemerkosaan secara psikis dan pemikiran. Terserah deh yang lain mau berpendapat berbeda… menurut analisa saya ya begitu…

Sering gak bertemu orang yang memaksakan kehendak nya???


Contoh nih…

2 orang ibu-ibu sedang makan di warung soto bu komplak…saat pesanan soto datang terjadilah percakapan yang berlanjut….

Jeng A: *Asik meracik soto panasnya dengan sedikit sambal saja, menurut si jeng ini, itu sudah memanjakan lidahnya.

Jeng S: *sambil memperhatikan jeng A lalu berkata… “eh jeng…kok makan sotonya gitu doang??? Ih apa enak itu.. ini loh tambahin kecap sama jeruk nipis nya… pasti tambah seger…”

Yaaaa…..emank niat nya sih baik ya..memberikan ide tambahan..dan percakapan berlanjut lagi….

Jeng A: “Saya lebih suka begini aja jeng..rasa asli ditambah sambal dikit udah mantap buat saya..”

Jeng S: “ih jeng mana mantapnya klo begitu.. ini tambahin jeruk nipis sama kecapnya… *sambil… dituanglah kecap dan diperaslah jeruk nipis ke soto jeng A

Jeng A: *Hanya terdiam… pasrah tapi dalam hati gondogk dan kesal melihat aksi jeng S pada sotonya…tapi demi pertemanan…dia merespon dengan baik “Iya jeng…. ini dimakan…”

Jeng S: “enak  gitu kan jeng..daripada yang tadi….”

Jeng A: “hanya tersenyum…*dalam hati berkata…..”gw gak suka kecap maniiissss…sempruuuullll nih oraaanggg….”

Pernah ngalamin yang begitu??? Pernah diposisi jeng A?? Atau pernah beraksi seperti Jeng S???

Jika pernah…. Please stop… don’t do that..

Buat jeng A… akan terus terusan tekanan batiinnn cuinnn…. mending terus terang dan tegas menolak perbuatan jeng S, jika tidak mau terus terusan diperlakukan seperti itu.

Buat jeng S… aduh please deh… mikir donk.. emank lw mau digituin juga??? Saya rasa nggak ada yg suka diperlakukan begitu ya…

imagesdsf


Nih ada contoh cerita lagi…


Seorang kakek sedang berjalan-jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan.

Mereka menemukan seekor kura-kura. Anak itu mengambilnya dan mengamat-amatinya.

Kura-kura itu segera menarik kakinya dan kepalanya masuk di bawah tempurungnya. Si anak mencoba membukanya secara paksa.

“Cara demikian tidak pernah akan berhasil, nak!” kata kakek, “Saya akan mencoba mengajarimu.”

Mereka pulang. Sang Kakek meletakkan kura-kura di dekat perapian. Beberapa menit kemudian, kura-kura itu mengeluarkan kakinya dan kepalanya sedikit demi sedikit. Ia mulai merangkak bergerak mendekati si anak.

“Janganlah mencoba memaksa melakukan segala seuatu, nak!” nasihat kakek, “Berilah kehangatan dan keramahan, ia akan menanggapinya.”

“Dalam hal berhubungan dengan orang lain, harus ada pengendalian diri. Pengendalian diri berarti tidak memaksa kehendak pribadi. Tidak memaksa kehendak pribadi mencerminkan kekuatan diri.” [Lao Tze]

Manusia dengan sifat yang rupa rupa, pada dasarnya sifat nya senang memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Harapannya adalah agar orang tersebut melaksanakan kehendaknya itu dengan baik dan menyenangkan hatinya. Namun seringkali hasil dari suatu pekerjaan yang dipaksakan adalah tidak maksimal. Orang tidak merasa nyaman melaksanakan suatu pekerjaan yang dipaksakan.

Pasti begitu bangganya kita, ketika ide atau kehendak kita dapat diterima atau disetujui oleh pihak lain.


Manusia dengan sifat superior biasanya akan memaksakan segala pemikiran dan kehendaknya kepada orang yang berada dibawahnya. Bos kepada karyawan, para Pejabat DPR kepada kementrian, Majikan kepada pembantunya, public figur kepada asistennya, Orang tua kepada anaknya (namun ada juga anak kepada orang tuanya), Mertua kepada mantunya.

Tidak jarang pemaksaan kehendak dilakukan dengan cara yang kasar dengan membentak, menghardik sampai disertai tindakan kekerasan secara fisik. Jika sudah begitu… sungguh terpuaskan kah anda?? Tidakkah ada sedikit rasa bersalah akan tindakan tersebut?

Memang kita ingin setiap orang harus setuju dengan keinginan pribadi atau golongan kita tapi apakah dengan cara memaksa dan mengintimidasi harus dilakukan? Tidak memperdulikan orang lain suka atau tidak. Tidak biasakah dengan memberikan pengertian yang bijaksana dan memberikan kebebasan kepada orang tersebut untuk memilih sendiri keputusannya?


Dalam hal berdiskusi, sering terjadi perbedaan pendapat, acapkali atau boleh jadi sudah merupakan ketentuan umum. Setiap orang harus tetap mempertahankan diri bahwa pendapatnya yang paling benar, pendapat orang lain pasti salah. Tidak ada ruang untuk menerima pendapat lain sebagai kebenaran. 

Kedua kisah tadi mengusulkan untuk memberi suatu kehangatan kepada semua orang bahkan makhluk Tuhan yang lainnya, serta membentuk suatu suasana yang menjamin kepada orang lain untuk yakin bahwa apa yang ia kerjakan itu bukan sesuatu hal yang sia-sia. Karena, suasana hangat itu dapat memberikan kepada setiap orang kesempatan untuk berkreasi dengan lebih maksimal. Dengan demikian, apa yang menjadi cita-citanya dapat dicapai dengan baik.

Berbagi pemikiran memang perlu, namun.. tetap saja memaksakan sesuatu kepada siapapun itu hal yang tidak benar

coba ajaklah seseorang dengan cara memberikan mereka sebuah perhatian atau kepedulian, jika ingin pemikiranmu diikuti.

Orang sabar adalah orang yang bisa mengendalikan diri dengan tidak memaksakan sesuatu hal kepada orang lain. 

 SEMOGA DAPAT DIJADIKAN PEMBELAJARAN DAN HIKMAH DALAM HIDUP




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s